Filed under: Uncategorized
Assalammu’alaikum wr. wb.
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti Opening Ceremony International Youth Forum yang diadain di Bandung, tepatnya di gedung Merdeka, tempat diadakannya Konferensi Asia Afrika. Di situ saya ketemu beberapa orang bule dan sedikit berbasa – basi dengan mereka. Dengan bermodalkan bahasa Inggris yang pas – pasan untuk lulus Presentation Class di kampus berkenalanlah saya dengan salah satu peserta yang berasal dari Ausralia. Namanya Sesil. Setelah memperkenalkan diri dia mengajak saya untuk berjabat tangan, dan dengan “gantengnya” gw hanya mengatupkan tangan gw dan mendekatkannya ke dada. Yah jelas hal ini menimbulkan respons yang sudah saya harapkan dari awal, she asked me, like this:
Sesil (S) : What’s wrong with shaking hands?
Adit (A) : In my religion the woman that I can touch is only my wife and my muhrim.
S: What’s muhrim?
A: Women that i can’t marry me. you know like my mom, and my family.
S: Ohhh, so you’re moslem?
A: I am. (harap maklum dengan bahasa inggris saya yang pas – pasan)
Dari sini gw mulai bertanya bagaimana kehidupan muslim di Australia, yah sedkit bertanya tenteng keadaan keluarga yang seiman. Pembicaraan kami ditutup dengan dipanggilnya para peserta ke tempat duduk ( saya kenalannya ketika sesi tur).
Ini foto saya waktu menghadiri IYF.
Yah acaranya cukup meriah, berhubung acara ini skalanya internasional.
Isi acaranya kebanyakan tentang kepemudaan, terus ada Millenium Development Goals (MDG’s), peran pemuda dalam tercapainya peace. Ada satu topik menurut saya yang cukup menarik ketika salah satu speaker berbicara tentang Barrack Obama yang menurut beliau merupakan figur pemuda yang paling sukses saat ini. Yah saya mengerti kalau Barrack memang tokoh pemuda yang cukup sukses, hanya saja saya pernah mendengar penyangkalan dia tentang kebenaran bahwa dia pernah menjadi muslim.
Sebagai seorang muslim saya tidak melihat kalau Barrack merupakan figur yang tepat dalam memimpin Amerika. Kaenapa saya sampai berpikiran seperti itu? Hal ini karena saya yakin bahwa siapapun yang akan menjadi preiden Amerika pasti diharuskan untuk menolong Yahudi. Apalagi Barrack, yang notabene pernah menjalani kehidupan di sekolah muslim, harus membuktikan bahwa dia bukanlah seorang simpatisan muslim. Untuk membuktikannya bisa jadi dia malah mengeluarkan dana yang lebih besar untuk proyek Palestina.
Sudah cukup berbicara tentang politiknya…
Tanggal 26 Juni yang lalu acara IYF diadakan di Taman Ganesha, dan saya menjadi staf logistik yang super – super sibuk.
Satu hari menjelang acara, kami rapat – rapat tak jelas dan melihat – lihat pengerjaan tenda dan panggung. Sore harinya kami harus memindahkan peralatan Rampak Gendang (kalo tidak salah) dari sekre LSS ITB ke Taman Ganesha, dan saudara – saudar jumlah gendangnya 30-an aja. Untung teman – teman di LSS baek semua, jadi pada ngebantuin ngangkatin tuh gendang. Malamnya kami tidur hanya 1-2 jam saja karena ada pertandingan Jerman VS Turki. Secara saya nontonnya di Asrama Salman tentu saja semuanya merupakan simpatisan Turki. Abis pertandingan selesai dilanjutkan dengan shalat malam dan dilanjutkan dengan ngeberesin ruangan seminar dan dilanjutkan dengan shalat subuh. Abis itu saya pulang, mandi dan balik lagi. Yah acaranya keren bangetlah , apalagi pas malemnya, sayang sore harinya saya harus pergi e Pekalongan untuk menunaikan amanah dari orang tua.
Mudah – mudahan acara itu bisa nambah wawasan saya dan gak cuma ngasih sakit pinggang dan lengan jadi pegel – pegel.
Itu aja buat kali ini.
Wassalammu’laikum wr. wb
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
